Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 13 Desember 2011

PAK DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

BAGAIMANAKAH SIKAP SEORANG KRISTEN TERHADAP 
MASYARAKAT MAJEMUK?

LESMAN GIAWA
Bagian tulisan yang penulis lampirkan dibawah ini adalah salah satu tugas yang menjadi sebuah syarat perolehan nilai dari mata kuliah "PAK dalam Masyarakat Majemuk" yang diasuh oleh seorang dosen di NAZARENE di Jln. sani, Kadisoka, JOGJAKARTA, yaitu Pak ELIA TAMBUNAN yakni satu-satunya dosen yang belajar di fakultas islam untuk mengambil gelar Doctor, dan hal ini adalah sesuatu hal yang sangat luar biasa dan keunikan seorang dosen Kristen... dan melalui materi pelajaran "PAK dalam Masyarakat Majemuk" penulis beserta teman-teman yang lainnya menjadi sadar dan menyadari serta mengakui bahwa sosialisasi umat Kristiani selama ini sangat minim trhadap masyarakat umum dalam artian terhadap agama-agama lain diluar kristiani. Akar atau sumber dari semua hal ini sesuai refleksi dalam pribadi kristen itu sendiri yaitu besarnya Ego seorang kristen, dan Fanatisme, dan berbagai hal lainnya sehingga orang-orang kristen hanya bergaul dekat dengan orang sesama agamanya dan merasa alergi dengan agama yang lainnya.. Dengan bersikap seperti demikian maka kekrstenan yang dimiliki itu hanya sebatas KTP saja, bukankah dengan sikap menamkan egoisme serta tidak bisa menerima budaya atau kepercayaan orang lain bertentangan dengan Agama kristen itu sendiri??
Pentinya sosialisasi terhadap orang yang berseberangan agama dengan kita, layaknya sebagai orang kristen membuang fanatisme, melepaskan pikiran alergi terhadap agama lain, tetapi mari bersama-sama bergandengan tangan embangun relasi yang baik terhadap semua orang diluar agama yang kita miliki sebab ketika kita memiliki interaksi serta relasi yang baik terhadap mereka maka saat itu jugalah kita memiliki peluang untuk berpolitik mengenali aturan-aturan serta kebiasaan agama lain. Saya sangat setuju dengan sebuah kalimat yang sedikit menyinggung perasaan beberapa mahasiswa dari Pak Elia dengan kalimat “Buang Pikiran Primitif!!! Sebab dengan merenungkan kalimat itulah adanya jawaban dari kebiasaan hidup sebagai seorang kristen selama ini.
Mungkinkah itu selama ini seorang kristen hanya peduli dengan agamanya sendiri, dan lebih dipersempit lagi hanya fokus dalam menyebarluaskan nama sebauh lembaga atau denomenasi-denomenasi, sementara nilai dari kristen itu sendiri tidak memadai. Mari intropeksi diri saudara-saudari, dan membawa reformasi sesuai kebutuhan dan seadanya. Sangatlah penting jika seorang pendidik PAK ataupun seorang Pendeta terlibat dalam kepemerintahan sebagai wujud sosial kita terhadap sesama, jangan hanya mengurus agama sendiri.
Carilah lebih dahulu serta milikilah berbagai metode untuk memasuki sebuah daerah yang tidak pernah saudara-saudari masuki selama ini sehingga proses adaptasinya meringankan saudara dan kebersamaan itu cepat tercipta dan tercapainya tujuan apa yang saudara inginkan.



PENGEMBANGAN MODEL PAK

“Klik  Atau Fit"

DENGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL

A.    Meregangkan Wilayah Kajian PAK

Pendidikan dan teologi Kristen itu sebenarnya sangat simple. Terlepas dari sisi mana dan untuk tujuan apa kita menjelaskannya, sebenarnya pondasi PAK berdasarkan substansi pengajarannya hanya soal percaya kepada Yesus adalah Tuhan dan juruslamat semua umat manusia satu-satunya.
Meyakini atau mengimani dan menerima bahwa Alkitab adalah Firman yang Allah yang hanya diilhamkan olehNy sendiri dalam proses. Pemmberian di saat pertamanya.  Tetapi Ia tidak pernah mengajarkan seperti itu. Siapa saja tidak pernah disuruh untuk menjadi agama Kristen, dan Ia juga tidak pernah mengatakan demikian, karena Ia juga bukan Kristen, dan tidak pernah mengatakan bahwa hanya Tuhannya orang Kristen.
Jika di posisikan ke dalam realitas zaman dan spirit edukasi PAKnya, han itu tidak lagi hanya sesederhana itu, ketika berbicara soal sosio-praksisnya. Kita sedang hidup dalam realitas masyarakat yang multicultural, dan cara beragama dan berTuhan atau berteologi yang plural.
Dimensi pendidikan multicultural itu bukan hanya dari sisi teologis dan endukasinya PAKnya saja. Di zaman kebangkitan dan kesadaran etnik ini penjelasan yang terakhirlah yang mendesak dianalisasis khususnya setting sosial Indonesia. Menurut pengamatan dari Andrew Jakson, bahwa PAK sedang membutuhkan evolusi dan progresivitas secara kritis dengan pendidikan kritis pendidikan multikulturalisme dan hanya itulah metodologi ker ja akademiknya, ini sangat penting untuk menghasilkan kesepahaman dan kesaling berterimaan untuk sanggup hidup bersama dalam arti yang sebenarnya di antara Islam dan Kristen.
Jika kita bisa melihat dari banyak dimensi pengajaran PAK dalam PL. secara general bahkan tidak mengakui pendidikan multicultural ini, bahkan terjadinya multikulturalisme kalau itu adalah karena hukuman Allah, kesombongan manusia, bukan karena perjanjian atau Covenant dengannya. Di dalam pihak, sesuai dengan spirit dan system pemerintahan di kala itu, bangsa Israel dilarang keras untuk kawin mawin dan hidup bersama, dan berdampingan bersama dengan bangsa Samaria, dan di luar Israel kala itu, apa lagi jika sudah berbicara soal urusan teologi, keTuhanan dan cara-caranya ini menjadi pertimbangan kritis dan krusial ketika berbicara pendidikan multicultural dan plura lewat kacamata teologos PAK. Seperti pernyataan dari James  4. Banks oleh karena itu kita penting merekonstruksi pengajaran PAK soal multikulturalisme dan pluralism, bagian mana saja yang bisa digarap dan urgent menjadi wilayah kajian PAK.
PAK perlu memberikan konstruksi sosial dan dimensi pendidakan multikulturalisme. Pendidikan multicultural dari sisi PAK akan bisa membantu banyak orang memahami konsep-konsep, paradigm, dan penjelasan lengkap yang diperlukan untuk menjadi praktisi yang lebih efektif budaya, bahasa rasial beragam dan kelas. PAK juga sering terpanggil untuk membenat memberikan pemahaman perkembangan teoritis, konseptual dan penelitian baru dilapangan. Melihat kompleksitasnya persoalan pendidikan multicultural, memang tampaknya PAK seharusnya bisa memberikan kontribusi setidaknya untuk lingkungan PAK. Untuk  itu memang PAK sedang mengalami kekosongan ahli dan peneliti yang mampu menggunakan beragam desain.

B. BUKAN LAGI PAK TETAPI AKP (AGAMA KRISTEN PENDIDIK)

Secara administratif Pendidikan Agama Kristen seolah-olah menjadi self-centerd (berpusat pada diri sendiri), ini jelas-jelas egois. Jika tidak sadar diri dan sadar akademik hal ini hanya akan dipekerjakan untuk mengurusi diri sendiri dan hanya soal Agama Kristen itu sendiri.
            Ketika berbicara soal realita soal Agama perlu AKP maksudnya adalah cara-cara dimana agama kristen dipekerjakan untuk mendidik atau mengedukasi dan mengedukasi masyarakat lainnya disamping itu dirinya sendiri.
Pada point ini mendevenisikan agama dengan cara yang lain. Agama adalah ragam atau multi tata cara atau aktifitas ritus, kepercayaan atau keyakinan valuasi, dan validasi sosial, ilusi, nilai atau dimensi yang utama yang memang ada realitasnya yang diungkapkan atau diekspresikan dalam ragam multi realitas  dalam bervariasi simbol, tindakan, perilaku, perasaan sebagai sebuah respon yang tepat yang dilakukan oleh orang, kelompok atau komunitas dan masyrakatnya secara sengaja dengan tujuan untuk menegaskan nilai-nilai yang tidak dibatasi.
            Ilmu dalam hal  ini sebuah tindakan atau upaya yang disengaja secara metodologi prosedural atau cara yang sistematis untuk mengkacinya PAK, sehingga dengan begitu maka agama kristen itu dijadikan sebagai proses edukasi menjadi eduaksi untuk mendidik komunitas masyarakat beragamanya. Harapannya dengan memberi pengalaman seperti itu maka siswa dan mahasiswa, jemaat, atau masyarakat dalam hal beragama dan agamanya yang kristen itu menjadi tegas dan jelas, intinya agama tidak lagi hanya diposisikan sebatas doktirn atau pandangan mhidup semata tetapi juga ilmu secara akademik untuk meningkatkatkan kualitas keyakinan, kimanan, teologis, sosiologis dan intelektual. Pemahaman komprehensip inilah yang bisa berkontribusi untuk menigkatkan kualitas kristen dalam arena sosial yang lebih luas.

Ditjen bimas kristen protestan Depak R.I. Tahun 1995 tujuan pendidikan teologi yakni :
1.      Untuk memperlengkapi mahasiswa dengan kemampuan akademis, etis, moral spiritual, untuk berfungsi dalam panggilan Tuhan baik dalam gereja mupun dalam masyarakat
2.      Untuk mengembangkan ilmu kristen dalam kerangka kesaksian dan pelayanan gereja ditengah-tengah masyarakat. Prinsip-prinsip pendidiknya dilakukan untuk pembinaan dalam segi-segi spiritual, akademis, dan social sehingga terjadi dialog antara firman  Allah dan masyarakat sehingga mempercayainya dan menampakkannya dalam realitas hidup spiritual, social dan intelektualnya.
3.      Untuk mengembangkan ke ilmuan dan kelembagaan Kristen dan pengabdian masyarakat atau tindakan dan tanggungjawab sosial. Untuk membina mahasiswa dan keterampilan dalam pelayanan dan masyarakat.
Kita dituntut sadar bisa akademik, dan sadar keterbatasan khususnya bahasa, serta sadar bahwa selama ini kita belum banyak yang berani secara fundramental atau radikal untuk kuliah secara lintas lembaga lintas dosen. Hal seperti baru hanya dilakukan diantara forum-forum dialog kerukunan umat beragama yang sudah bisa dilaksanakan. Dan tidak memberikan hasil yang memuaskan. Sementara yang diharapkan “Pendidikan Kristen Yang sanggup mengajarkan hidup bersama dengan cara “Partnership” Equal, and “Within Difference” Partnership, serta meskipun berbeda. Dalam penulisan ini untuk mengeksplorasi makna dibalik tindakan masyarakat Kristen dan teologinya dan cara beragama dan bermasyarakat. Hal ini akan bisa dan tatap dikelola dengan kita bertanya dan mengkritisi secara akademik apa yang telah terjadi dan apa yang sedang terjadi didalam pendidikan agama dan teologi Kristen serta realitas masyarakat Kristen terkini.
Agar bisa sampai kesana tentulah fokusnya dengan cara mengeksplorasi dengan cara-cara yang baru dan segar makna, niliai-nilai, gaya dan pandangan hidup dari hasil tindakan, perbuatan, aktivitas, aksi yang ditampilkan oleh orang kristen itu setiap hari. Dalam hal inilah dituntut kesadaran diri dan rasa sebagai kristen yang kuat, kemauan untuk mengkritisi diri sendirir ini. Dengan demikian memperluas horison teori, pemikiran dan sosio praksis, keilmuan PAK, dan cara kita mengeksplorasi sesuatu tentang hidup kristen yang belum kita ketahui.
Jika sudah demikian, maka seharusnya keilmuan PAK perlu konsentrasi juga kedimensi manusia dengan pendekatan sosiologisnya, atau keilmuan PAK soal masyarakatanya dan ilmu untuk mengelola masyarakatnya yang sebanyak itu. Fokusnya adalah orang didalamnya dijadikan sebagai subjek atau aktor kunci untuk membantu membaca dan memaknai masalah sosial, sehingga ada transmisi dan trasformasi kehidupan kristen didalam dunia saat ini disegala bidang. Dengan demikian maka kontribusi dan tanggungjawab PAK sangat ditunggu disini menjadi instrumen yang bisa dipekerjakan untuk mengedukasi pendidikan kristen itu sendri, mengedukasi komunitas masyarakat kristen agar dengan cara-cara yang multi sungguh-sungguh mensosialisasikan Tuhan Allah Dalam Masyarakat yang multikultural dan Agama yang plural agar “Klik” atau “Fit” dengan setting sosial dimana ia menempatkan dan memposisikan kristen.

C. Tinggalkan Islamologi  Masuki Islamic Studies
          Arti Islamologi dikenal dengan istilah “ usuluddin “ artinya ilmu tentang dasar-dasar Islam, yang menyangkut iktikad ( keyakinan ), ibadah kepada Allah, Rasul, kitab suci, soal-soal gaib misalnya seperti hari kiamat, sorga, dan neraka, atau ilmu tauhid, dari sisi ilmu teologi Islam.
          Ini ilmu kajian yang sistematis soal Agama difondasi intelektual keagamaan, intelektualitas, budaya, peradaban, dan dimensi sosial dari kebangkitan islam, sejak dari dunia Arab klasiskal, medieval, modern atau kotemporer. Artinya berbicara soal teori pemikiran dan sosio-praksis keislaman dalam segala dimensi. Ilmu teologi seperti ini perlu disegarkan dan dibarukan karena dikonstruksi berdasarkan perasaan superior dan membatasi ruang gerak dan cara-cara modern untuk mensosialisasikan Kristus dan Kristen mulai sekarang ini.
Salah satu cara untuk terlibat dalam misi ini bisa dikerjakan keilmuan PAK untuk meningkatkan kualitas  sikap teologis dan aksisosiologi. Mahasiswa dan Dosen kristen yang bisa diperoleh secara akademik lewat proses pendidikan, yakni dari edukasi  menjadi eduakasi, termasuk pendidikan Tinggi Teologi. Lewat proses ini semua orang mengakui masih sebagai satu alternatif yang ampuh untuk membangun dan mendidik  suatu bangsa. Teolohi memang sudah harus diposisikan menjadi ilmu, secara artikulatif tanpa mengungkapkan sebagai yang diderifikasi dari teologi sebagai dogma. Hal itu hanya bisa dirangkuh lewat proses pendidikan baik dalam sistem persekolahaan dan perkuliahan formal dan non formal, juga dengan informal.
Dalam hal ini pendidikan Tinggi Teologi dan keagamaan kristen bisa diposisikan sebagai instrumen analisis sosial kelembagaan dan instrumen sosialisai intelektualitas dari hasil proses edukasinya kedalam dan kedalam masyarakat luarnya. Dalam hal ini memang kita harus mempekerjakan metodologi keilmuan objektif, dan operasional kongkrit bukan lagi yang abstraksif dan subjektif, sehingga semua tindakan kita menjadai argumentatif atau memiliki alasan-alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Ilmu seperti itulah  yang menjadi pendekatan dan yang kita butuhkan ketika berteologi dan berproses dalam belajar dan mengajarkan teologi sebagai muatan isi dan materinya, sehingga ilmu teologinya menjadi efektif dan akurat. Artinya ia bisa diposisikan untuk mensupport pembangunan atau pendidian manusia atau masyarakat, yang kini telah menjadi tema utama dunia.
Menurut Ali Shariati 23 November 1933 ada empat cara untuk mengikuti cara berpikir islam yang mempertahankan Islamologi yaitu :
1.      Seseorang haru menjadi quranoloist ahli yang bisa menjelaskan dan mempraksiskan elemen dari dalamnya secara esensial setting sosial masyarakatnya dalam semangat menyingkapkan sosial keislamannya.
2.      Seseorang harus menjadi prophetologist, yang ahli memakai biografi Nabi Muhammad SAW dan seluruh nabi lainnya.
3.      Seseorang harus menjadi familiar secara komprehensif tentang sejarah islam, dan mempenyai level pengetahuan yang tinggi tentang keimamatan, dan kekerabatan dalam keluarga dan kenegaraan dan struktur sosial kemasyarakatan dan sistem asosiasi dan interelasi didalam islam itu sendiri.
4.      Seseorang harus ahli dalam hal peradaban islam dan memiliki spesifikasi  kajian islam, philsafat, islam hukum dan sejarah keislaman lainnya.
Dalam hal ini kristen didorong untuk membuang pandangan fanatikisme dan stigmatisasisme terhadap muslim  demikian juga sebaliknya, supaya muslim sebagai umat islam ditantang untuk belajar dari kitab suci Alkitab dan Alquran. Hanya itulah cara satu-satunya refensi yang paling tepat yang memberikan penjelasan soal Yesus. Sehinnga kalau sudah saling mempelajari isi, materi dan metodologi pendidikan teologi masing-masing khususnya islam dan kristen, kita tidak bisa mengatakan bahwa Agama Islam salah atau juga sebaliknya.  


D. Lupakan Pedagogi:Gunakan Andragogi.
Selama ini ilmu pak dipakai untuk mengajar orang kristen baru sebatas ilmu teologi dan psikologi akibatnya kurikulum,isi,muatan dan materi yang selama ini diterima hanya bersifat indoktrinasi,teologi dan psikilogi.Sehingga pelajaran yang diterima selama mengikuti pengajaran PAK itu berasal dari psikologi umum.tetapi pembelajaran PAK mulai dari gereja,Sd,smp,bahkan,samapai perguruan tinggi hanya menggunakan ilmu pedagogi padahal ilmu pedagogi itu hanya rancangan atau dipakai untuk mengajar anak-anak dengan pelajaran seperti ini cuman mengantarkan anak-anak untuk mengertinkemampuan beradaptasi sosial sedangkan pengalaman sosiololgi pengalaman teologis belum diatukalalasikan dalam pemahaman lain nya beragam dan memakai agama itu berdasarkan sebuah  pada kenyataannyadipengaruhi olehkita hidup sekarang ini ndi bawah sosial yang nyata bukan semua agama-agama padahal tidak ada suatu pun manusia didunia ini dipengaruhi oleh pribadinya tetapi dipengaruhinoleh pribadi-pribadi dari luar yang ada disekelilingnya(lingkungan sosial) artinya cara kita beragama,berteologi bertuhan selalu koralatif dan interaksi sosial kita setiap hari sedangkan pemahaman itu sangat penting untuk menuntun PAK agar dilakukan juga secara komprehensi dan profesional karena ini penting untuk kemajuan pendidikan Kristen itu sendiri bukan lagi dengan semangat kristenisasi ilmu apalagi dengan labelisasi saja.karena asumsi yang selama ini secara sadar dan tidak sadar baru hanya dibangun diatas  sistem nilai dan cara pandang dari teologis sesisi saja vrancis fatalis  JR mengatakan bahwa ada tiga dasar asumsi yang di bangun diatas PAK dalam ilmu pedagogi pertama PAK memposisikan peserta belajar menjadi obyek belajar Pak mencari-cari identitas dan perkembangan kerohanian kedua PAK sebagai obyek pelayanan sehingga peserta belajar dianggap orang-orang yang mencari kepastian masalah rohani sehingga pelajaran teologi dan agama menjadi satu-satu tempat yang paling tepat.ketiga PAK menjadikan peserta belajar sebagai orang fdyang dsangat membutuhkan pengetahuan teologis yang benar tentang makna,nilai-nilai,gaya pandang kristen sehingga dengan demikianmaka pendidikan dianggap instrumen yang paling ampuh dan dijadikan alat utama untuk mentranformasikan peradaban dan memperbaiki sistem sosial tetapi dizaman postmodernisasi seperti sekarang ini bahwa asumsi dan pendekatan sempit seperti itu semakin menguat saja.tampaknya hal itu terjadi hanya nkarena terkurung dan dikurung dalam asumsi dan paradigma teologis kristen sesisi semata atau orientasi sektarian dan denominasional tetapi tujuan dari PAK untuk mendidik seluruh kehidupan masyarakat dengan pendekatan seperti ini ilmu pedagogi PAKnya hanya kuat pada dimensi teologis,psikologis sehingga tidak mencapai tujuan akhirnya jika hal itu saja yang kita pertahankan maka kita pertlantarkan tindakan mengintelektuaalisasi dan memikul tanggung kehidupan sosial kristen yang lebih luas.oleh karena itu kita tidak lagi memposisikan PAK seperti itu-itu saja tetapi penting untuk mengkalaim ulang kebenaran PAK dalam tanggung jawab teologis dan spiritualitas dengan demikian seharusnya Pak itu menghasilkan pribadi kristen yang cerdas,agaamis,teologis dan intelektual dan memeliki kontribusi bagi agama  kristen maupun masyarakat sekiling supaya hal itu tercapai harus membetulkan ilmu pendidikannya.Dalam metode mengajar sitem pedagogi peserta belajarnya hanya untuk menyesuaikan diri dengan dunia diluar dirinya.karena kurikulum  yang dirancang didalam pengajaran seperti itu diakui sendiri dan bersifat intruksi semata.berbeda dengan ilmu pendidikan andragogi cara pembelajarannya peserta belajarnya yang menempatkan mereka sebagai orang yang dewasa dan mandiri yang telah memiloki pengalaman sebatas usia dan selengkap pengalaman yang mereka miliki.Intinya andragogi terdiri dari srategi atau cara belajar orang dewasa .artinya sangat khusus sesuai dengan karakteristik orang itu karena mereka diposisikan telah memiliki pengalaman hidup dan pengalaman belajar dari hidupnya.oleh karena itu ilmu andragogi Pak konsentrasi untuk membelajarkan dan mendewasakan pembelajarnya baik kedewasaan spiritualnya,sosial dan intelektual.sehingga kita melihat kompleksitasnya persoalan dalam masyarakat multikultural dan agama plural dibutuhkan pengembangan dan meningkatkan kualitas layanan,proses pendidikan PAK .PAK bisa dikerjakan sebagai jembatan refleksi antara dunia teologis yang sering abstark dengan dunia sosial yang sangat rill.inilah yang membuat PAK dengan realitas masyarakat sesungguhnya.

Tidak ada komentar: